
Mengingat besarnya kebutuhan janur itu, selama ini banyak dipasok dari dari beberapa daerah di Jawa, Sulawesi hingga Sumatra. Pasalnya, Bali tidak mampu memenuhi kebutuhan janur karena semakin sedikitnya populasi kelapa.
Rektor Universitas Warmadewa, Prof DR I Made Sukarsa mengakui, kebutuhan daun kelapa muda yang selalu meningkat itu, bisa mengancam populasi kelapa di Bali. Faktanya memang, saat ini populasi pohon kelapa semakin berkurang.
"Perhitungan saya ada 60 persen lebih janur dipasok dari luar Bali seperti Jawa Timur," jelas Sukarsa kepada wartawan di Denpasar, Bali.
Dengan banyaknya permintaan janur untuk keperluan persembahyangan atau upacara keagamaan, menjadi bukti bahwa secara ekonomis tidak hanya menguntungkan masyarakat setempat namun juga orang luar Bali.
Belum lagi, sebenarnya dari perhitungan ekonomis, tidak hanya kebutuhan akan janur saja, masih ada bahan lainnya seperti bunga dan buah kelapa yang sebagian besar dipasok dari luar Bali. Di pihak lain, seiring berkurangnya populasi kelapa, Pemerintah Provinsi Bali seperti disampaikan Gubernur Made Mangku Pastika, setuju jika daun kelapa diambil dari luar Bali.
"Ya sebisa mungkin diambil dari luar, agar kelapa di Bali tetap tumbuh dan lestari," ujar Pastika.
Berbagai upaya untuk melindungi populasi kelapa dilakukan seperti gerakan menanam kelapa secara masif di beberapa titik di pedesaan di seluruh wilayah. Selain untuk mendukung program penghijauan, juga sebagai upaya regenerasi pohon kelapa yang sudah saatnya dilakukan mulai saat ini, agar populasinya tetap terjaga dengan baik.

No comments:
Post a Comment