
INILAH - Inflasi Februari mencapai 0,75% angka ini cukup tinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Ini dianggap pemerintah masih belum bisa mengendalikan harga pangan.
Meskipun inflasi Februari lebih rendah dari Januari yang sampai menyentuh level 1,03%, namun angka tersebut masih cukup tinggi karena meleset dari dugaan pemerintah yang menargetkan 0,4%.
Menurut pengamat ekonomi Ahmad Erani Yustika, inflasi Februari merupakan tanggung jawab pemerintah yang harus diperhatikan untuk mengendalikan harga pangan. Karena harga panganlah yang sangat mempengaruhi inflasi sampai 0,75%.
"Saya miris ya mendengar inflasi Februari 0,75%," ujarnya kepada INILAH.COM di Jakarta, Minggu (3/3:2013).
Dalam pandangan Guru Besar Fakultas Ekonomi Brawijaya, ini merupakan PR bagi pemerintah. Targetan pemerintah untuk menekan inflasi tahun 2013 di bawah 5% itu cukup berat.
Perkiraan tersebut, lanjut Erani, karena sudah ada dampak dari kenaikan harga dasar listrik dan adanya rencana kenaikan harga BBM.
"Cukup berat bagi pemerintah untuk mengendalikan inflasi yang masih dibilang awal tahun," katanya.
Dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi pada Februari mencapai 0,75%. Menurutnya Inflasi Februari sebesar 0,75% sebenarnya cukup tinggi, namun lebih rendah ketimbang Januari kemarin. Penyebabnya adalah pembatasan impor hortikultura.
"Akibat adanya pembatasan impor hortikultura oleh pemerintah menyebabkan Inflansi 0,75% pada Februari ini," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin saat pemaparan inflasi Februari di kantornya Jakarta, Jumat (1/3/2013).
Menurut Suryamin, pembatasan impor hortikultura untuk melindungi petani dalam negeri, menyebabkan harga komoditas tersebut naik tinggi. Inflasi juga dipicu harga yang bergejolak pada bawang merah dan bawang putih.

No comments:
Post a Comment