
JAKARTA - Tingginya inflasi Februari 2013 lalu tampaknya direspons negatif pelaku pasar. Buktinya, rupiah pun tertekan dan akhirnya melemah ke Rp9.678.
Dalam risetnya, Head of Research & Analysis Treasury Planning & Development BNI Nurul Eti Nurbaeti menjelaskan, maraknya rilis data fundamental domestik sebenarnya berperan untuk mengurangi tekanan atas rupiah.
Tapi, sayangnya Badan Pusat Statistik (BPS) malah mencatat angka inflasi Februari 2013 berada di angka 0,75 persen. Meski angka inflasi ini turun dari inflasi Januari di posisi 1,03 persen, namun secarayear on year (YoY) inflasi mengalami kenaikan.
Inflasi tahun kalender berada sekira 1,79 persen dan inflasi secara YoY, berada di 5,31 persen. Sementara, inflasi inti secara YoY berada di 4,29 persen dan 0,30 persen untuk Februari.
Di sisi lain, defisit neraca perdagangan yang terus melebar cenderung mempersempit kesempatan rupiah untuk terapresiasi. Namun, menurutnya, BI senantiasa memonitor rupiah dan bersiaga untuk mengamankan pergerakan rupiah.
Rupiah, menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI) Jumat (1/2/2013) melemah ke Rp9.678 per USD dibandingkan periode perdagangan sebelumnya Rp9.678. Menurut Bloomberg, rupiah berada di posisi Rp9.685.
Sementara menurut yahoofinance, rupiah ada di Rp9.665 per USD. Di mana kisaran perdagangan harian ada di level Rp9.675-Rp9.678.
